Sekilas Khatulistiwa

Awal tahun 2016, Josodirdjo Foundation & ZigZag Indonesia menggagas sebuah program sosial untuk mensosialisasikan dan membudayakan kekayaan seni, budaya dan cerita bangsa Indonesia dengan kemasan yang menghibur dan edukatif.

Selain itu dilatar belakangi oleh visi untuk memproduksi konten edukatif di tengah-tengah besarnya penetrasi dunia luar dan internet sekaligus menularkan nilai-nilai patriot pejuang bangsa Indonesia. Maka Josodirdjo Foundation bersama ZigZag Indonesia hendak memproduksi Drama Musikal dan Film Khatulistiwa. Drama Musikal akan dipentaskan pada 19 – 20 November 2016 bertempat di Taman Ismail Marzuki, sedangkan Film Khatulistiwa akan didistribusikan gratis ke 5000 sekolah di awal 2017.

Nama 'Khatulistiwa' merujuk pada negara Indonesia yang mendapat julukan Negeri Zamrud Khatulistiwa karena merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar yang dilalui garis khatulistiwa atau garis ekuator. Julukan ini secara tidak langsung menggambarkan keindahan Indonesia dengan landskap hijau hutannya dari Sabang sampai Merauke.

Drama Musikal dan Film Khatulistiwa diharapkan menjadi kontribusi terbaik bagi anak bangsa untuk menyampaikan pesan-pesan perjuangan pendahulunya dan memberikan inspirasi serta tauladan akan karakter anak bangsa:



“Setiap individu dapat menjadi pahlawan bagi orang terdekat, teman dan ruang sosialnya - terlepas ruang dan waktu. Karakter hebat yang telah dilakukan oleh para pahlawan bangsa sebagai pendahulu”

Sinopsis

Khatulistiwa - Jejak Langkah Negeriku adalah sebuah Musikal kolosal yang megah tentang para pahlawan Indonesia dari era perdagangan VOC hingga meraih Kemerdekaan Indonesia yang dikemas dramatik dengan tata artistik dan visual yang indah dari seni dan budaya Indonesia. Drama Musikal yang menampilkan 100 talenta muda Indonesia, memperdengarkan hampir 50 lagu Indonesia dari lagu nasional, anak dan daerah serta menampilkan rangkaian tarian Nusantara.

Cerita yang dituturkan seorang ayah kepada anaknya dengan cara mendongeng pada saat mereka menikmati perjalanan berkemah. Mulai dari kilas balik cerita semangat perjuangan Pangeran Kornels terhadap Daendels, Cut Nyak Dien, Sisingamangaraja , Christina Martha Tiahahu, Dewi Sartika, Sultan Hasanudin, dan para penggerak Sumpah Pemuda hingga masa Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta.

Setiap pahlawan bangsa yang diceritakan memiliki ciri khas perjuangan masing-masing, ada yang dengan angkat senjata, ada yang melalui pemikiran intelektual dan kekuatan dari persatuan. Pada akhirnya rasa bangga akan negerinya tumbuh pada diri anak tersebut. Si anak dan teman-temannya mulai mengerti apa arti pahlawan dan menghargai perjuangan para pahlawan hingga kita bisa menikmati kemerdekaan ini.

Pemain


Nama dara kelahiran Singapura 29 tahun yang lalu ini tentu sudah tidak asing lagi. Kiprahnya sebagai model internasional bersama Next Model Management di Los Angeles membuat popularitasnya melesat. Bakat Kelly di dunia seni peran pun tak perlu diragukan. Hingga saat ini sudah 8 judul film telah ia lakoni, beberapa di antaranya yaitu: Lo Gue End, Secret Society, Negeri Tanpa Telinga, Gangster, dan Unleashed.



Siapa tak kenal Rio Dewanto, aktor muda yang sarat akan pengalaman di dunia seni peran ini kerap menghiasi layar kaca dan layar lebar Indonesia. Puluhan judul FTV, sinetron, dan film layar lebar telah ia lakoni. Beberapa film layar lebar yang melambungkan namanya antara lain: Pintu Terlarang, Arisan! 2, Garuda di Dadaku 2, Java Heat, dan Filosofi Kopi. Hingga kini, Rio tercatat telah meraih beberapa nominasi, dan memenangkan penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Terpilih di ajang Piala Maya 2012 untuk film Arisan! 2.



Sita memulai karirnya di dunia tarik suara, hingga namanya melambung bersama grup vokal Rida Sita Dewi (RSD) pada tahun 90an. Selain sibuk menyanyi, kala itu Sita juga berkiprah sebagai penyiar, serta aktris. Drama musikal Nyai Dasima (2001) menjadi debutnya di dunia seni peran yang kini telah menyejajarkan namanya dengan aktris dan aktor kenamaan tanah air. Hingga kini, belasan judul film layar lebar telah ia lakoni, beberapa di antaranya yaitu: Gie, Selamanya, Jendral Kancil The Movie, dan Hijab.



Finalis Abang None Jakarta 2009 ini telah menggeluti seni peran sejak SMP, hingga akhirnya menelurkan peran dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) karya Deddy Mizwar. Hingga kini, Tika telah membuktikan kematangannya dalam dunia seni peran melalui beberapa FTV, sinetron, sitkom, dan film seperti Soekarno, Malaikat Kecil, 3, Doea Tanda Cinta, dan Hijab. Beberapa penghargaan juga berhasil ia raih, antara lain: Pemeran Pendukung Wanita FTV Terbaik di FFI 2012, Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di FFI 2014, serta Aktris Terpuji di Festival Film Bandung 2014.



Aktor muda kelahiran 20 Oktober 1988 ini mengawali kiprahnya dengan menjadi finalis Abang None Jakarta 2008. Bakatnya di dunia seni peran telah membawanya membintangi beberapa judul film yang menghiasi layar lebar Indonesia dengan kemampuan aktingnya yang memukau, antara lain: Bebek Belur, Soekarno, Tjokroaminoto, Ayah Menyayangi Tanpa Akhir, dan Midnight Show.



Siapa yang tak kenal Epy Kusnandar, aktor lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini telah malang melintang di dunia seni peran tanah air. Ia dikenal aktif di beberapa sanggar teater. Namanya kian melejit setelah berperan di beberapa sinetron seperti Kejar Kusnadi, Suami-Suami Takut Istri, dan Preman Pensiun. Kehebatannya di dunia seni peran pun terbukti dengan puluhan judul film yang telah ia bintangi, seperti Petualangan Sherina, Maskot, Si Jago Merah, dan The Raid 2. Epy pun telah berhasil meraih penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Pria FTV Terbaik FFI 2012 dan Pemeran Utama FTV Terbaik FFI 2014.



Penyanyi solo bersuara merdu ini dikenal lewat beberapa penampilan memukaunya di berbagai pentas musik tanah air, salah satunya adalah Hearts of NTT. Pria kelahiran Malang ini juga dikenal sebagai guru vokal di Elfa Music School. Gabriel pun sudah tidak asing dengan dunia seni peran, salah satunya ia telah ia tunjukkan melalui karya drama musikal Timun Mas. Hingga kini, beberapa nama besar seperti Erwin Gutawa, Addie MS, Purwacaraka, dan Tohpati pernah berkolaborasi dengannya.



Nama Haikal mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang pencarian bakat AFI 2, tak tanggung-tanggung, saat itu Haikal berhasil menduduki posisi Runner-Up 1. Bakatnya di dunia tarik suara kemudian ia tuangkan dalam album bernuansa melayu. Tak hanya sampai di situ, Haikal juga berhasil mengembangkan kemampuannya dalam dunia seni peran yang ia buktikan melalui penampilan memukaunya dalam beberapa pentas drama musikal.


Tim Produksi


Tiara Josodirdjo telah mengawali kiprah sejak 21 tahun lalu saat ia dipercaya untuk mengurus beberapa perhelatan kerabat dekat. Tiara dikenal sebagai event conceptor yang mengutamakan kekuatan konsep dalam setiap event yang ia jalankan. 

Seiring berjalannya waktu, kecintaannya pada negeri dan dunia anak ia tunjukkan dengan mempersembahkan sebuah pameran yang berfokus pada pengenalan budaya lokal yaitu ‘Kampung Anak Indonesia’, menampilkan edukasi yang dikemas secara musikal dengan mengangkat cerita dongeng nusantara Bawang Merah dan Bawang Putih pada beberapa tahun lalu. 



ZigZag Indonesia, Event Management yang berfokus pada layanan ke korporasi, buah karya inisiatif Tiara Josodirdjo. Sejak mulai didirikan, ZigZag Indonesia telah dipercaya dan berpengalaman dalam menyelenggarakan economic forum berskala internasional, pameran fashion untuk merek ternama, serta beragam event besar lainnya. 

Informasi lebih lanjut: www.zigzag-indonesia.com



Pria yang akrab disapa Bambang ini telah berkecimpung di dunia entertainment sejak tahun 1980 dengan mengawali karir sebagai penyanyi profesional. Musikalitasnya mulai terasah saat menjadi pengarah musik dan acara pada beberapa pementasan konser, serta drama musikal. 

Konser Addie MS dan Drama Musikal Bawang Merah Bawang Putih merupakan salah satu buah karyanya. Bambang kini fokus dalam penciptaan konsep event musikal di beberapa acara perayaan ulang tahun korporasi dan wedding anniversary. 



Ferdi telah menggeluti dunia event selama hampir 10 tahun, berawal dari latar belakang pendidikannya di bidang marketing, Ferdi memulai karir di JWT dan telah menangani beberapa brand besar di Indonesia. 

Perpaduan latar belakang di dunia advertising dan event management, mematangkan pengalaman dan menajamkan perspektifnya dalam menciptakan sebuah event yang komprehensif. Beberapa klien yang pernah bekerjasama dengannya antara lain: Google, GarudaFood, Boston Consulting Group, Citibank, Australian Embassy, dan sebagainya.



Berangkat dari kecintaannya terhadap pertunjukan Broadway, Melvi selalu berhasrat untuk menghadirkan drama musikal yang mengangkat cerita Indonesia dan dikemas dengan baik.

Pengalamannya 11 tahun di bidang marketing khususnya strategi komunikasi pemasaran dan hubungan masyarakat di berbagai perusahaan multinasional, memberikan Melvi peran besar dalam mempersiapkan produksi drama musikal dan film Khatulistiwa, khususnya dalam hubungan partnership dengan pihak sponsor dan publikasi untuk kesuksesan program Khatulistiwa. 



Telah banyak buah karya Adjie dalam dunia teater. Selain fokus sebagai sutradara pada puluhan pertunjukkan teater yang telah di jalankan, Adjie juga aktif sebagai acting coach pada beberapa film layar lebar seperti Guru Bangsa Tjokroaminoto, Belengu, dan Cahaya dari Timur, Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, dan Surat Cinta Untuk Kartini. Ia pun aktif dalam Komunitas Peqho Teater.



Nataya Bagya menulis sejak tahun 2001 dan menjalaninya sebagai hobi, passion dan profesi. Nataya menulis untuk pertunjukan teater bersama Komunitas Peqho Teater sejak 2007. Karya-karya yang telah ia persembahkan antara lain ‘Lelaki Abu-abu’ (omnibus panggung ‘Love vs Fear’, 2007), ‘Yuk Tak Ngerokok Dulu Ya’ (2009), ‘The Golden Sea of Love’ (2010), ‘Atas Nama Kota’ (karya kolektif, 2016).

Selain menulis untuk pertunjukan, Nataya juga menulis skenario film di antaranya ‘Aku Atau Dia’ (OneStar Production, 2010), ‘7/24’ (MNC Pictures, 2014), dan ‘3 Dara’ (MNC Pictures, 2015). Dalam dunia perfilman Indonesia, Nataya Bagya sebelumnya dikenal sebagai publisis bersama rumah produksi Rexinema dan beberapa rumah produksi lain (2004 - 2013).



Mima Yusuf memulai karirnya di seni panggung sebagai Costume Designer sejak 1997. Berjalannya waktu dan kecintaannya terhadap dunia seni panggung menggerakkan hatinya untuk menulis naskah teater sejak tahun 2004. Beberapa karya tulisannya telah dipentaskan bersama Peqho Teater dan Teater Abang None. Untuk karya musikalnya telah dipentaskan bersama Tiara Josodirdjo dalam Bawang Merah Bawang Putih dan yang terakhir bersama Naura dalam Konser Dongeng Naura.



Sejak tahun 1997, Taba Sanchabakhtiar telah mendedikasikan karirnya di bidang videografi, diawali dengan memproduksi dan menyutradarai sejumlah video musik dan dokumenter. Ia juga merupakan salah satu pendiri Planet Design Indonesia pada tahun 1997-2008. Setelah memproduksi sejumlah video musik dan meraih beberapa penghargaan VMI, yaitu 2000 VMI Best Director Award, Taba memutuskan untuk mengambil tantangan baru dan memperluas portofolio ke dalam seni video dan industri multimedia - bidang yang menjadi keahliannya hingga kini, sampai akhirnya ia mendirikan rumah kreatif yang diberi nama This&That pada tahun 2008.

This&That didirikan dengan visi menghadirkan penyampaian komunikasi menggunakan bahasa visual yang dikemas secara artistik dan unik melalui beragam media. Rumah kreatif yang bermarkas di Jakarta ini telah berkembang dengan dukungan tim yang berisikan insan-insan kreatif yang muda dan berbakat. Banyak klien besar yang pernah mempercayakan project mereka kepada This&That.

Hingga saat ini, Taba telah mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dengan tim dari individu-individu yang sangat berbakat dan menghasilkan karya-karya terbaik di tanah air seperti Konser MOX, Konser SATU Indonesia, Musikal Laskar Pelangi, Matah Ati, Musikal Tari Ariah, dan lain-lain. Hingga saat ini, Taba masih konsisten memperluas ruang lingkupnya dan menempatkan fokusnya untuk menciptakan bentuk-bentuk baru dari seni visual, serta terus mengembangkan konsep visual design dengan hasil yang berbeda dari yang sudah pernah dibuat.



Nama Ifa Fachir tentu tidak asing di dunia musik tanah air. Karir bermusiknya sebagai anggota dari band Maliq and the Essentials, membuat namanya melambung. Ifa juga aktif dalam industri musik Indonesia sebagai komposer (pencipta lagu), penata musik, music director dan juga produser. Beberapa lagu hasil gubahannya antara lain: “Kebebasan” (Radhini), “LDR” & “Jatuh Hati” (Raisa), “#SusahMoveOn” (Alika), “Kembalilah” (Ify Alyssa ‘Blink’), “Kasih Jangan Kau Pergi” (Yura Yunita), “Pemeran Pengganti” (Bisma Karisma), “Akhirnya” (Alika & Vidi Aldiano) dan “Penjaga Hati” (Be3). Selain itu, beberapa nama musisi besar juga pernah berkolaborasi dengannya, bahkan ia juga dipercaya sebagai Koordinator Program Indonesia di Jakarta International Java Jazz Festival 2016. 

Ifa mengawali pendidikan musik di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1995. Di New York, musikal-musikal Broadway memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk karakteristiknya dalam bermusik dan menciptakan lagu. Ia juga aktif berpartisipasi dalam Forest Hills High School Jazz Band, Forest Hills High School Jazz Band, yang merupakan Big Band SMA tempatnya belajar – sebagai awal pengalaman komposisi musik untuknya. Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1999, Ifa melanjutkan pendidikan musiknya di Lembaga Pendidikan Musik Farabi, Institut Musik Daya, bahkan sempat berguru secara langsung kepada Indra Lesmana. 

Selain sibuk dengan beragam project di dunia musik, Ifa terus mengeksplorasi kelebihannya dalam bermusik. Inilah yang kemudian membawanya menjadi penata musik untuk drama musikal Bawang Merah Bawang Putih beberapa tahun lalu. Keahlian serta passion yang kuat membuat Ifa mampu menghadirkan perubahan dalam penataan musik drama musikal, sehingga musik drama musikal menjadi mudah dicerna dan dinikmati oleh khalayak.



Di Indonesia Iwan Hutapea pasti sudah tidak asing lagi dengan namanya, pria kelahiran 21 Januari ini sudah malang melintang di dunia event production khususnya lighting concept. Menyelesaikan kuliah di Bina Nusantara, Pria yang biasa dipanggil Bang Iwan Mulai mengenali lighting mulai tahun 2000. Bersama Etcetera Lighting beberapa event besar di Jakarta dan luar negeri sudah pernah merasakan jasa Iwan Hutapea sebagai lighting designer dan lighting operator. 

Beberapa event besar di Jakarta sudah pernah menggunakan jasa beliau untuk urusan lighting konsep, contohnya saat HUT Jakarta, saat itu pemerintah DKI Jakarta menggelar event drama musical Ariah di Monas, mengangkat legenda Betawi, dan dalam event tersebut peralatan lighting yang digunakan dan konsep yang di inginkan cukup rumit, tetapi beliau berhasil membuat para penonton terpukau dengan permainan lighting yang disuguhkan Iwan Hutapea. 

Beberapa event yang Iwan Hutapea sebagai lighting design dan operator antara lain: Drama Musikal Ariah, Drama Musikal Laskar Pelangi, Maybank Indonesia Launching, Rossa Concert (Malaysia), Afghan Concert, Love Festival Kahitna, Sebastian Gunawan Fashion Show, Biyan Fashion Show, Teater Matah Ati, Andien Concert, dan lain sebagainya.



Auguste Soesastro menetap sepuluh tahun di Australia untuk bersekolah. Melalui rekomendasi ayahnya, Auguste mempelajari arsitektur di Universitas Sydney, di saat yang sama ia juga mengambil jurusan film dan digital kreatif di Australian National University. 

Pada tahun terakhirnya di Australia, ia bekerja di Galeri Nasional Australia sebagai junior curator untuk seni Indonesia, dengan sesialisasi tekstil Asia Tenggara dan seni etnografi. 

Setelahnya, Auguste memperdalam ilmu desain di École de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne di Paris, dan kemudian pindah ke New York untuk bekerja sebagai asisten pembuat pola untuk Ralph Rucci selama tiga tahun.